ALT_IMG

Selamat datang di Cakruk

Cakruk dalam bahasa Jawa berarti gardu/pos ronda. Beragam aktivitas dapat dilakukan, mulai dari wedangan, bermain catur, bermain kartu, hingga berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Mari kita gunakan Cakruk ini sebaik-baiknya! Selengkapnya...

ALT_IMG

ekoph.com

Berisi sekumpulan tulisan Eko Prih Hartanto yang perlu anda baca Bertemakan bahasa, budaya, dan informatika. Pengin tahu lebih dekat tentang Eko PH? Klik di Sini...

Showing posts with label Solo. Show all posts
Showing posts with label Solo. Show all posts
09 July 2011

Kongres PSSI di Solo Diawali Kirab

1 komentar
Festival, karnaval, dan kirab kini sudah menjadi salah satu ikon kota Solo. Lihat saja agenda budaya kota Solo yang telah dilaksanakan. Pada bulan Januari 2011 ada Grebeg Sudiro. Bulan Februari dilaksanakan Grebek Mulud, Festival Kethoprak, dan Solo Karnaval. Pada Bulan Maret ada Festival Tirtonadi. Pada Bulan April dilaksanakan Solo Menari dalam rangka Hari Tari Sedunia. Bulan Mei dilaksanakan Festival Dolanan Bocah dan Mangkunegaran Performing Art. Bulan Juni lalu, ada Kreatif Anak Sekolah Solo (KREASSO), Solo Batik Carnival, dan Keraton Art Festival. Sedangkan pada Bulan Juli ini sudah ada dua even yang dilaksanakan, yaitu Solo International Performing Art (SIPA) dan Solo Batik Fashion.
Even KLB PSSI juga dimanfaatkan untuk makin mengukuhkan kota solo sebagai Carnival City. Sabtu, 9 Juli 2011, Kongres Luar Biasa PSSI akan diawali kirab yang melibatkan sejumlah elemen, antara lain Prajurit Kasunanan, Reksapraja, Jagatirta, Solo Batik Carnival, Puteri Solo, dan cucuk lampah. Dalam kirab tersebut, Komite Normalisasi, menteri, KONI, AFC, dan FIFA akan dikirab dengan kereta kuda.
Kirab dalam pembukaan KLB PSSI ini digagas oleh Walikota Solo, Joko Widodo, dengan harapan KLB PSSI kali ini merupakan kongres yang berbudaya. “Kami ingin kongres yang berbudaya. Di dalam dan luar kongres, harus berbudaya,” ujar Jokowi.
Selain kirab, untuk mewujudkan kongres yang berbudaya, tuan rumah telah menyiapkan 20 Puteri Solo untuk mendampingi peserta kongres yang interupsi.
Di hotel tempat dilaksanakannya kongres pun, yaitu di The Sunan Hotel, malam ini (8/7) mulai pukul 22.00 WIB digelar pergelaran wayang kulit. Pergelaran wayang kulit di lobby hotel ini menampilkan dalang H. Kamto Suwarno dengan lakon “Gatotkaca Lahir”. Sebelum pementasan wayang kulit dimulai, dilaksanakan acara doa bersama dan potong tumpeng. Dalam kesempatan ini, yang didaulat untuk memotong tumpeng adalah Ketua Koni Rita Subowo dan anggota Komite Normalisasi yang juga anggota DPR RI dan mantan calon Bupati Wonogiri, Sumaryoto.
Kota Solo memang memiliki sejarah panjang terkait olahraga dan PSSI. Organisasi PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) berdiri 19 April 1930. Cita-cita Soeratin membentuk organisasi sepak bola nasional diawali dengan mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan para tokoh sepak bola, di antaranya di Solo, Yogyakarta, dan Bandung.
Pada 1938 berdiri ISI (Ikatan Sport Indonesia), organisasi yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olah Raga pertama (15-22 Oktober 1938) di Kota Solo.
Nama PSSI yang semula singkatan dari Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia, diubah menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dalam kongres di Solo pada 1950.
Lanjutkan Membaca →
23 December 2010

Cerita Ganong: Metta Budaya, Kenalkan Budaya Sendiri Sedari Dini

20 komentar
Pembaca yang budiman, sebelumnya, sebagai pemilik blog ini saya menyampaikan maaf sebesar-besarnya atas kelakuan Ganong. Ternyata dia tidak menepati janjinya. Janjinya, dia mau bercerita tentang perjalanannya secara langsung, tetapi setelah perkenalan kemarin, dia merasa tidak pede untuk bercerita langsung, minder katanya. Ya sudahlah... akhirnya saya putuskan agar dia bercerita saja dan saya yang menuliskan kepada Anda. (intinya: sudut pandangnya pakai orang ketiga... hehehe...)
Berikut cerita perjalanan Ganong.
Sabtu sore, 18 Desember 2010, Ganong berjalan-jalan sore di citywalk Jln. Slamet Riyadi Solo. Sore yang mendung membuat acara jalan-jalan Ganong lebih santai. Sampai di depan kompleks Taman Sriwedari, Ganong melihat ada keramaian di Joglo Mandala Wisata Sriwedari. Ratusan anak, ibu, dan bapak ada di sana.
Karena penasaran, Ganong masuk ke Joglo lewat pintu kecil di gerbang Sriwedari. Ini karena pintu gerbang utama ditutup. Sampai di dalam areal joglo, di panggung terlihat tulisan "Apresiasi Seni Sanggar Seni Metta Budaya Surakarta". Acara apa ini?
Ganong lalu menemui salah satu panitia. Ia bertemu dengan Joko Sudiono, yang belakangan Ganong tahu bahwa ia adalah ketua Sanggar Seni Metta Budaya.
"Ini acara apa, Pak?' tanya Ganong.
"Apresiasi Seni ini adalah ajang apresiasi seni siswa Sanggar Metta Budaya dan membentuk mental anak untuk tampil di depan umum. Acara ini adalah acara rutin empat bulanan. Setelah siswa belajar satu judul tari, tari tersebut dipentaskan di sini. Intinya, pentas ini adalah pentas kenaikan tingkat untuk para siswa. Acara ini akan berlangsung dua hari, yaitu hari ini dan besok," ujar Joko.
"Berarti ini dinilai?"
"Iya, Mas. Untuk penilaian, kami mendatangkan tiga penilai, yaitu dari SMK Negeri 8, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo."
Ganong jadi semakin penasaran dengan Sanggar Seni ini. Melalui perbincangannya yang agak kacau, karena sang narasumber harus mengatur acara, Ganong jadi sedikit tahu tentang sanggar ini.
Sanggar Tari Metta Budaya didirikan oleh sekelompok lulusan STSI Surakarta pada tahun 1989. Semula bertempat di Prangwedanan Mangkunegaran dan sekarang di Joglo Sriwedari Surakarta. Siswa yang berlatih di sanggar ini saat ini sebanyak 250 siswa. Ada yang masih playgroup, TK, hingga SLTA. 
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sanggar ini antara lain:
  1. Latihan Rutin, dilaksanakan di dua tempat, yaitu di Joglo Sriwedari dan di TK Mojosongo. Di Joglo Sriwedari, latihan rutin dilaksanakan seminggu tiga kali, yaitu hari Selasa, Rabu, dan Jumat.
  2. Pementasan. Pementasan yang dilakukan antara lain pentas rutin kenaikan tingkat (seperti yang Ganong saksikan ini), pentas ulang tahun, dan pentas-pentas untuk memenuhi undangan pihak lain.
Selain diajari tari-tarian, siswa juga diajak bermain "Dolanan Anak" untuk pelestarian dolanan Jawa yang sudah jarang dimainkan anak-anak. Seperti yang telah ditampilkan dalam pentas Ulang tahun Sanggar Seni Metta Budaya yang ke-21 diadakan di Taman Balekambang Surakarta tanggal 26 September 2010.

Komentar Ganong setelah sedikit tahu tentang Metta Budaya: "Wah, hebat sanggar ini. Mampu berbuat untuk pelestarian budaya. Mulai dari dini sudah diajarkan budaya sendiri, semoga budaya kita tetap lestari."
Lalu apa komentar saya setelah mendengar cerita ganong itu?
"Walah, Nong...Nong. Kayak gitu kok diceritakan pada saya. Wong saya pas hari itu juga ada di sana. Yang pentas Tari Merak itu kan salah satunya anakku," kata saya.
"O...jadi malu aku. Kok kita gak ketemu ya?" ujar Ganong.

Lanjutkan Membaca →
Photobucket  photo doltinuku.jpg